Awalnya aku serta merta setuju ketika seseorang yang baru saja dihunus kritik menusuk mengatakan, “Jenenge obat yo mesti pait (namanya obat pastilah pahit)” untuk menunjukkan betapa ia menerima ucapan tak mengenakkan yang diterimanya. Perumpamaan itu seolah begitu tepat dan berhasil menginspirasiku agar senantiasa merasa legawa atas segala komentar atau masukan tentang apa yang telah kulakukan, terutama komentar-komentar yang disampaikan tanpa filter adab.
Namun, beberapa waktu kemudian, aku teringat obat sirup OBH anak rasa stroberi. Seketika aku sadar, ternyata tidak semua obat rasanya pahit. Bagaimana aku bisa lupa dan baru menyadarinya? Duh… beranjak dewasa memang menculikku dari ingatan-ingatan tentang hal-hal ‘enak’ di masa kecil.
Kalau melihat ke obat-obatan yang diberikan dokter waktu aku sakit di umur remaja hingga dewasa ini, memang kebanyakan rasanya pahit. Paling hanya obat maag yang punya rasa selain pahit, umumnya mint (dan mengapa juga harus mint? Kan bisa saja rasanya matcha). Itulah mengapa perlu air untuk cepat-cepat mendorongnya ke kerongkongan. Dalam hati aku berharap jangan sampai obat itu mampir sedetik pun di lidah. Cukup kopi dan pare saja yang bisa kuampuni rasa pahitnya.
Fakta tentang obat khusus anak-anak dan obat untuk orang dewasa memberi efek samping berupa pertanyaan dalam benakku. Mengapa obat-obat untuk orang dewasa tidak dibuat punya rasa-rasa yang enak juga? Mengapa OBH untuk orang dewasa harus punya rasa yang terlalu ‘herbal’ dan terlalu ‘jamu’? Dan mengapa pula obat-obatan kerap bersanding dengan rasa pahit? Skena obat orang dewasalah yang menyebabkan metafor ‘namanya obat pastilah pahit’ itu ada. Seandinya semua obat punya varian rasa macam Jas Jus, pasti tidak ada orang yang benci obat.
Atau orang dewasa memang harus dihadapkan kepada realita? Bukan lagi soal-soal atrifisial? Boleh jadi rasa pahit pada obat orang dewasa termasuk salah satu latihan pendewasaan. Obat pada dasarnya memang pahit, dan memang itu adanya. Rasa enak pada obat untuk anak-anak berfungsi agar anak mau meminum obat. Agak kontradiktif sebenarnya, ketika anak-anak yang serba transparan malah dilekati kepalsuan. Padahal memalsu kan hobi orang dewasa, ya?
Sepertinya kepalsuan bagi orang dewasa cukup pada tindak-tanduk mereka saja, jangan sampai merambah ke lini lain. Bahkan, kepalsuan orang dewasa agaknya tidak akan cukup dibayar dengan rasa pahit obat atau kenyataan-kenyataan lain.
Ungkapan bahwa obat (atau kritik) punya rasa pahit memang sebaiknya dipatenkan. Apabila melihat huru hara yang terjadi akhir-akhir ini, yang disebabkan oleh Pimirintih (biar imut) memang perlu sesuatu yang pahit. Meski kita pun tahu, rasa pahit pun tampak tidak lagi menggganggu lidah licin mereka.
Obat punya fungsi untuk menyembuhkan, dan kritik juga punya fungsi yang kurang lebih sama. Seandianya semua kritik itu disampaikan dengan ‘rasa stroberi’, salahkah? Atau tidak pas? Aku memahami bahwa ada kekhawatiran soal sopan santun dalam kritik sama saja dengan menjegal kritik itu sendiri. Sopan santun dalam kritik juga tidak lagi relevan kalau yang dikritik sudah lebih dulu kurang ajar.

Komentar
Posting Komentar