Mengungkap Sebuah Nama: Asal Usul Nama Desa Dongko

 

Sumber: Dokumentasi Pribadi 
Penulis di salah satu tempat khusyuk di desa Dongko

Tiada yang lahir dari ketiadaan. Tak terkecuali nama yang tersemat pada sebuah wilayah. Dongko (atau penduduk asli menyebutnya dengan tambahan bunyi sertaan [n] sehingga menjadi Ndongko) adalah nama dari sebuah Desa dan Kecamatan di Kabupaten Trenggalek.

Sejauh yang saya tahu sampai awal semester 4, nama desa Dongko berasal dari penggabungan nama pohon Bendo dan Nangka yang tumbuh di wilayah dusun Krajan. Dan Selesai. Cerita hanya sebatas itu. Saya pun tidak lagi penasaran dengan cerita versi lebih panjang.

Namun, tuntutan tugas dari mata kuliah pada semester 4 memaksa saya untuk menjadi penasaran.

Mata kuliah Sastra Lisan adalah biang kerok dari segala perjalanan bolak-balik Dongko-Malang saya, serta limpahan hikmah yang tiada kira pada tahun ini. Seperti namanya, mata kuliah Sastra Lisan mempelajari sastra yang disampaikan secara lisan. Hal ini tidak sama dengan membaca cerita. Sastra lisan merupakan karya yang kelahirannya bukan melalui tulisan, melainkan disebarkan dengan mekanisme mulut-telinga-mulut. Bentuk-bentuk sastra lisan, di antaranya cerita rakyat, puisi rakyat, mantra, dan lagu rakyat. It was really endearing at first. Siapa sangka kalau hal semacam ini bisa dijadikan objek kajian ilmiah?

Kata ‘rakyat’ yang begitu lekat dengan sastra lisan bukan hanya menghamparkan suatu realitas bahwa kelahiran dan keberadaannya subur di tengah-tengah masyarakat. Lebih daripada itu, sastra lisan memiliki peran yang vital di masyarakat sebagai peranti pembangkit kesadaran kolektif dan spiritual. Kekuatan sastra lisan terletak di dasar hati (atau bahkan bawah sadar) masyarakat penuturnya sehingga ia seperti energi endogen yang terasa lekat sebagai jati diri.

Cerita tentang asal-usul Desa Dongko terasa menarik bukan ketika saya memutuskan menjadikannya sebagai objek kajian. Cerita itu saya pilih semata-mata karena hanya itu yang saya ingat, juga agar saya punya alasan pulang kampung dengan dalih penelitian. Akan tetapi, legenda ini menjadi menarik ketika saya mendengar penuturan sejumlah narasumber mengenai asal usul namanya.

Selayaknya kebanyakan wawancara bebas, percakapan yang saya lalui tidak bisa lepas dari geliat ngalor-ngidul. Fakta ini memang harus saya terima dengan lapang dada sebagai anak yang kurang suka basa-basi. Sebab kalau tidak begitu, laku penelitian akan terkekang dan saya jadi miskin data. Dari lima narasumber yang berhasil saya wawancarai, ada dua versi cerita mengenai asal-usul nama “Dongko” sebagai julukan tanah kelahiran saya ini.

Bendo dan Nangka

Lima narasumber yang saya wawancarai menyebut asal-usul nama Desa Dongko merupakan gabungan dari nama tumbuhan bendo dan nangka. Akan tetapi, ada latar belakang cerita yang cukup berbeda (atau memang hulu cerita yang tidak seragam).

Wawancara, atau lebih asyiknya ngobrol, saya tunaikan pertama kali di rumah Bapak Johan. Tetapi saya biasa memanggilnya Om Johan. Ia merupakan seorang kawan sekaligus tetangga saya yang dikenal aktif dalam skena kebudayaan setempat. Malam itu, saya diantar oleh bapak saya ke rumahnya. Suasana ruang tamu yang agak remang tidak mengurangi kerenyahan ngobrol ngalur-ngidul malam itu. Ketika saya mulai mentas dari cerita-cerita lain dan mengerucut ke asal-usul nama desa, cerita inilah yang saya dapat.

“Saya pernah mendengar cerita Legenda Desa Dongko dari orang tua saya. Cerita tersebut sudah saya dengar ketika masih kecil. Kalau dari orang-orang tua di sekitar mengatakan awal mula desa ini dinamakan Desa Dongko dari adanya pohon Bendo dan Nangka yang tumbuh berdekatan.”

Ternyata versi yang disampaikan oleh Om Johan sama dengan versi pertama yang diceritakan oleh Pak Ihwan Sawaji (Pak Waji) ketika saya bertandang ke rumahnya di dusun Karang Tengah.

“Menurut cerita yang saya dengar dari Mbah-Mbah dan orang tua, asal mula nama Dongko itu dari Bendo dan Nangka. Asal Bendo dan Nangka itu berdasarkan kehendak alam. Tumbuhnya saling berimpitan. Tumbuhnya pohon Benda dan Nangka di tempat itu (tempat yang dipercaya sebagai tempat tumbuhnya Bendo dan Nangka, yang sekarang menjadi pondok pesantren) dinilai cukup tidak biasa karena tempat tersebut lebih banyak ditumbuhi pohon so (mlinjo),” ungkapnya dengan mantap.

Dua cerita di atas menunjukkan adanya unsur mistis yang menyelubungi dasar penamaan desa. Terdapat kata kunci ‘tidak biasa’ yang membuat cerita menarik. Ketidakbiasaan ini adalah hal yang sekaligus menjadi biasa di kalangan masyarakat Dongko (dan umumnya masyarakat Indonesia) sebab pertumbuhan kami diiringi oleh kisah-kisah ajaib yang selalu mengandung kekuatan supranatural.

Pada wawancara lain bersama Pak Hartono (TMI: My mom said I used to call Mas Atono which I found that is crazily ridiculous), saya seakan mendapat validasi akan kewingitan pohon bendo dan nangka itu. Begini ungkapnya:

“Tempat ini (beliau menunjuk arah utara, dekat rumahnya) dulu adalah lurung luwak. Kebanyakan ditumbuhi bambu, dan atasnya sedikit itu banyak pohon mlinjo. Adanya pohon Bendo dan Nangka itu cukup aneh, jadi mungkin itu yang medasari adanya nama Dongko dan akhirnya menjadi nama desa sekaligus kecamatan.”

Saya tidak begitu paham soal cara persebaran tanaman. Bagaimana distribusi vegetasi atau pengetahuan ilmu alam sejenis. Kemungkinan jika pohon bendo dan nangka itu ditanam oleh orang sempat menyempil di benak saya, tetapi probabilitas itu saya abaikan karena saya sedang meneliti legenda, bukan sejarah atau kehutanan. Boleh jadi fakta masa lalu memang demikian.

Sebelum melakukan wawancara dengan Pak Hartono, saya melakukan wawancara dengan Pak Genit, seorang dalang populer dari desa saya. Kami lebih banyak berdialog soal sejarah yang masih mengendap di ingatan beliau tentang desa Dongko pada zaman pendudukan pemerintah kolonial Hinda-Belanda. Informasi ini jatuh eksklusif bagi saya, dan tentu saja penting. Selain itu, beliau juga menambahkan secuil cerita masa kecil yang menerangkan keberadaan pohon bendo dan nangka bukan cuma eksisten floral semata.

“Kebetulan tempat yang dipercayai sebagai tempat tumbuhnya pohon Bendo dan Nangka ada di dekat sini, bisa dibilang belakang rumah saya. Saya mendengar cerita ini dari Mbah Darmo. Dulu tempat tumbuhnya pohon Bendo dan Nangka itu becek, bukan seperti rawa tetapi ketika musim hujan tempatnya basah dan sangat becek. Selain itu juga dianggap angker. Tempat itu sangat terkenal akan kewingitannya sehingga wilayah seputar tumbuhnya pohon Bendo dan Nangka dinamakan Dongko. Pada waktu itu cakupan wilayahnya belum seluas sekarang.”

Popularitas wingitnya pohon bendo dan nangka akhirnya membuat Dongko tidak hanya menjadi sebutan untuk sepetak wilayah kecil, tetapi berhasil menjadi nama untuk sebuah wilayah dataran tinggi yang punya julukan kecamatan budaya.

Dondong dan Nangka

Versi ini punya alur yang sedikit berbeda dari kisah sebelumnya. Meskipun sama-sama berawalan /do/, cerita asal muasal nama versi Dondong-Nangka ini bukan hanya variasi lain jenis tanaman pertama pada susunan akronim. Legenda ini diilhami oleh perjalanan seorang wali.

Tidak diketahui secara pasti siapa nama wali itu, termasuk pula asal wilayahnya. Namun, melihat rute perjalanan sang wali, seperti yang disampaikan Pak Ihwan Sawaji, sosok suci itu tampaknya berasal dari wilayah barat Jawa Timur.

Diceritakan bahwa sang wali membawa sejumlah bibit tanaman. Di satu tempat ia menanam pohon blimbing sehingga wilayah itu dinamakan Blimbing. Saat ini wilayah tersebut merupakan salah satu dusun di Desa Dongko. Kemudian sekitar 1,5 kilometer ke arah timur, sang wali menanam pohon buah kedondong (disebut dondong dalam bahasa Jawa) dan nangka. “Tempat ditanamnya dua pohon tersebut sama dengan tempat tumbuhnya pohon Bendo dan Nangka,” imbuh Pak Ihwan Sawaji setelah menceritakan versi kedua asal usul nama Desa Dongko. Informasi tersebut didengar belum lama ini, yaitu ketika beliau akan menyusun cerita asal mula upacara Ngetung Batih. Pak Hartono juga mengungkapkan bahwa memang ada yang menyebut Dongko berasal dari gabungan kata dondong dan nangka.

Batas antara sejarah dan legenda rupanya menjadi sesuatu yang agak menyulitkan saya ketika mengais data. Miskonsepsi ini, berdasarkan anabel (analisis gembel) saya, tampak didasari oleh gesekan ‘waktu lampau’ yang sama-sama terkandung dalam sejarah maupun legenda. Keduanya merupakan konsep yang melibatkan masa lalu. Namun perlu diketahui, sejarah merupakan peristiwa yang tercatat, punya bukti empiris dan mayoritas tidak melibatkan unsur-unsur di luar benda kasat mata. Kurang lebih begitu kata dosen saya. Sementara legenda, merupakan cerita yang tidak mewajibkan para pendengar dan pewarisnya untuk percaya. Legenda merupakan produk budaya yang luhur, cikal bakal, dan akar bagi masyarakat pemiliknya.

Saya rasa, dua versi dari asal usul nama desa Dongko tidak perlu dicari mana yang lebih sahih. Sebab, keberagaman sama dengan kekayaan. Harta kebudayaan ini adalah nikmat yang sangat perlu untuk senantiasa disyukuri.

Wawancara dengan Pak Hartono menjadi yang terakhir. Data primer penelitian sudah dirasa memadai. Bahkan, bisa dibilang melebihi ekspektasi. Kalaupun data itu bisa berubah jadi harta, saya yakin kekayaan sedang membersamai saya (dan sayangnya tidak). Saya juga mengambil sejumlah data sekunder berupa foto-foto akting wawancara. Hasil fotonya delapan puluh persen blur, sebab fotografer saya tidak cukup andal. Namun tak masalah. Setidaknya saya tetap dapat nilai yang melegakan pada mata kuliah sastra lisan.

Seluruh pertanyaan inti yang saya ajukan mendapat jawaban yang memuaskan. Akan tetapi, ada satu pertanyaan yang jawabannya barangkali bisa menyuntikkan niat para kawula hidup untuk senantiasa berdongeng.

Pertanyaan itu berbunyi: Apakah cerita ini sudah disampaikan ke anak cucu?

Semua menjawab belum. Cukup disayangkan. Namun, dengan optimisme yang bulat, para narasumber menyadari urgensi pelestarian legenda Desa Dongko, dan warisan kebudayaan lokal lainnya.


Catatan:

  • Kutipan wawancara merupakan hasil transkripsi rekaman yang sudah diterjemahkan. 
  • Beberapa alur didasarkan para oret-oretan saat wawancara.
  • Cuap-cuap ini merupakan 'wajah lain' dari perjalanan penelitian tugas akhir saya yang membahas simbol kebudayaan Jawa dalam legenda Desa Dongko. 

Komentar