Dari Sabtu ke Sabtu

 

Gambar: I made it by myself 

Sebelum malam Minggu, kita semua harus melalui Sabtu pagi terlebih dulu. Sebagian membenamkan Sabtu pagi dengan tidur, sebagian lagi melaluinya dengan jalan-jalan, sebagian lagi mungkin dengan membaca.

Ini semua gara-gara anak Pendidikan Luar Sekolah itu (untuk tidak menyebut Shofi). Pada suatu Sabtu yang langitnya biru-putih, ia mengajakku pergi ke Taman Slamet, tempat yang hanya pernah kudengar namanya tanpa tahu tempatnya. Awalnya, kupikir dia sudah tahu letak Taman Slamet sehingga aku yang memboncengnya hanya perlu mengikuti arah-arah yang dia tunjukkan, tapi ternyata ini juga pertama kali baginya. Untung, karena tempatnya ternyata tidak terlalu jauh dari kampus, kami sampai dengan sat set. Terima kasih Maps. Aku sepenuhnya lupa apa niat awal kami ke sana, tetapi itu merupakan awal dari bagaimana Sabtu-Sabtu selanjutnya.


Selayaknya pengalaman pertama, hal yang menyerang paling dahulu adalah rasa canggung. Dalam hatiku yang mungil dan pemalu ini terus terucap ‘piya piye’ serba pakewuh. Tapi itu semua berhasil ditolong oleh mukaku yang kalem, chill, dan kul sehingga aku terlihat biasa saja. Seingatku, waktu itu aku membaca buku cerita anak dan disusul dengan forum yapping soal planet dan astrologi. Pada kesempatan itu juga tercipta kelucuan-kelucuan yang jarang aku temui sebelumnya. Contoh, seseorang salah menyebut Carl Sagan dengan Karl Marx. Itu adalah kali kesatu aku ke Sabtu Membaca.

Setelah yang pertama itu, aku tidak ke sana selama beberapa waktu, sebelum kemudian muncul sebuah ide skripsi yang turun dari langit (-langit gedung FIP) tentang aktivitas close reading Sabtu Membaca. Aku adalah kawan yang cukup baik hati, meski kadang kurang ajar. Menemani Shofi ke Taman Slamet lagi dalam rangka berskripsi bukan suatu hal yang mencerabutku dari kebudayaan leha-leha akhir pekan. 

Padat cerita, kami mulai sering ke sana. Bahkan terkadang aku ke sana sendirian. Berawal dari itu, orientasiku bukan lagi menemani si mahasiswa PLS, tapi lebih ke membaca karya-karya Pram (mohon maap di atas materai kepada Shofi). Close reading itu, yang jadi topik skripsi si Shofi itu, fokus membaca dan menelaah karya-karya Pram sebagai rangkaian mingguan menyongsong 100 tahun Pramoedya Ananta Toer. Oleh karena aktivitas itu, aku jadi mengenal dan membaca karya-karya Pram selain Perburuan dan Tetralogi Buru.

Kalau ‘kerancunan’ cukup tepat mewakili apa yang kurasakan, maka aku telah keracunan karya-karya Pram. Kalau racun tikus mengganggu sistem syaraf, maka racun yang kutelan kali ini mengganggu sistem kontrol nafsuku. Setiap kali menemukan buku Pram, tanganku tanpa dikomando langsung menjulur untuk meraih buku itu. 

Sayangnya, racun itu tidak sepenuhya berhasil mengganggu sifat ngantukan-ku. Ada suatu momen ketika aku meminjam Cerita dari Blora di perpustakaan fakultas. Lebih kurang satu bulan aku meminjamnya. Lalu? Tentu tidak selesai. Buku-buku Pram selanjutnya juga bernasib sama. Meski begitu, setidaknya aku punya beberapa karya Pram yang berkesan, di antaranya ‘Hadiah Kawin’ dan ‘Ikan-ikan yag Terdampar’. Itu menunjukkan kalau sebenarnya aku nggak parah-parah amat sebab masih ada karya Pram yang kubaca dan kuingat. 

Selain Pram, sesi close reading itu juga pernah membaca Idrus. Latar belakang pembacaan Idrus adalah fakta bahwa Pram menganggap Idrus sebagai gurunya. Ada dua kali momen ‘basah’ ketika karya Idrus akan ditelanjangi. Mega mendung dan titik-titik H2O mengusir kami dari acara ‘Tadarus Idrus’ itu. Sempat aku merasa Tuhan tidak merestui pembacaan itu. Sampai pada pekan ketiga percobaan membaca Idrus, atau lebih tepatnya ‘Dari Ave Maria, ke Jalan Lain ke Roma’ hari cerah berpihak ke Sabtu Membaca. Meski begitu cerah, Idrus tidak serta merta memberikan atmosfer yang terang. Lompatan-lompatannya yang tidak terduga membikin forum membaca waktu itu menjadi ricuh-ricuh lucu. Perdebatan soal 'siapa yang apa' dan 'siapa yang apa' membumbui Sabtu itu. 

Di Sabtu-Sabtu lain, hujan masih jadi ancaman utama. Kadangkala pagi yang terang benderang, langit yang biru bersih tidak menjamin siangnya mendung kelabu tidak bakal menggulung. Suatu kali, entah pada Sabtu tanggal berapa, hujan turun dengan derasnya. Beruntung buku-buku Cak Pendek sudah dikemas. Aku dan beberapa orang lain berteduh di parkiran rumah sakit dekat Taman Slamet. Sejauh yang dapat kuingat, waktu itu aku berteduh bersama Tian, Cak Pendek, Kak Fey, Mas Agil, mas mas baju bendera Vietnam (tidak tahu namanya), Mas Kukuh, mas mas pemilik puppy (tidak tahu namanya) dan puppy-nya yang mirip Lori milik DPR Ian. Shofi? Dia lagi beli siomay. Hujan yang dingin kala itu membuatku terlibat dalam percakapan-percakapan random dan beberapa potong siomay yang dibawa Shofi setelah hujan cukup trenceng. 

Selama hampir empat bulan cukup rutin ke Sabtu Membaca untuk membaca (dan sedikit menggosipkan) Pram, akhirnya aku sampai juga pada gong acara. 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer berjalan dengan Pak Soesilo Toer hadir pada hari kedua. Selama dua hari datang ke acara itu, aku banyak bertemu orang-orang yang kukenal, baik di kampus maupun di Taman Slamet. Dan aku menyadari kalau Sabtu-Sabtu itu membuatku tahu banyak orang. Setidaknya lebih banyak daripada aku tidak ke mana-mana. Bertemu banyak orang bukan hal yang aku suka, tetapi dampak baiknya memang muskil kutampik. 

Jadi, begitu deh. Ada lebih banyak hal yang mungkin bisa turut kuketik di sini, tetapi aku mampunya sampai di sini saja.

Beberapa dokumentasi yang ditangkap oleh HP-ku. 










Komentar