Mempertahankan Mulut Nggalek di Tengah Pelukan Bahasa Arek

 

Gambar: Alen-alen, makanan khas Trenggalek

Selain ancaman pergaulan bebas, merantau ke kota lain juga mengancam keberlangsungan hidup suatu dialek di mulut seseorang. Hal ini terjadi lantaran secara alamiah manusia akan mimicking atau terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya sehingga cara berbicara pun dapat berubah.

Dari beberapa kasus yang saya temui dan saya alami, fenomena perubahan dialek ini nyata dan mungkin. Sebagian besar dari kalian yang membaca cuap-cuap ini mungkin juga pernah menjumpai kasus serupa.

Sejumlah teman saya yang merantau ke Malang atau kota lain yang punya dialek berbeda dengan tempat asalnya, ketika kami bertemu kembali setelah sekian lama, tiba-tiba terdengar berbeda di telinga saya. Saya merasa aneh, tentu saja. Karena dengan dialek yang berbeda, saya merasa mereka jadi orang yang berbeda pula. Mungkin akan berlainan kalau kasusnya teman-teman saya itu merantau ke daerah dengan dialek yang sama dengan kampung halamannya. Misal, orang Trenggalek sekolah di Kediri. Keduanya sama-sama daerah pengguna bahasa Jawa Mataraman.

Nah, saya yang sudah kurang lebih bersekolah dua setengah tahun di Malang merasa tidak mengalami hal yang kawan-kawan saya alami.  Di sini mungkin saya terkesan pick me dan jadi ‘si paling nggak berubah’. Itu terjadi setengah tidak sengaja, artinya setengahnya lagi memang sengaja.

Di desa saya, orang yang cara ngomongnya berubah sedikit saja bisa jadi bahan rasan selikur purnama. Saya nggak mau lah jadi salah satu objek rasan itu. Dan akhirnya saya sebisa mungkin tidak mengubah cara ngomong. Itu buat poin yang sengaja. Kalau tidak sengajanya ya karena faktor lingkungan.

Saya berasal dari Kabupaten Trenggalek dan Trenggalek adalah salah satu wilayah yang dulu menjadi bagian dari Karesidenan Kediri. Bersama dua karesidenan lainnya, yaitu Karesidenan Madiun dan Karesidenan Bojonegoro, Karesidenan Kediri menjadi wilayah di Jawa Timur dengan penutur bahasa Jawa berdialek Mataraman. Karena pengaruh bermacam hal, wilayah-wilayah di Karesidenan Kediri (berdasarkan pengamatan saya) punya subdialeknya masing-masing, misalnya penggunaan istilah tertentu.

Untuk mempertahankan subdialek Nggalek-an  dan dialek Mataraman saya, berikut ini beberapa hal yang saya terapkan dan terjadi dalam menjalani hari-hari di tanah rantau.

Dikelilingi Makhluk-Makhluk Mataraman

Seperti yang sudah saya singgung di atas, lingkungan memegang pengaruh penting. Dikelilingi manusia-manusia Mataraman mempermudah saya mempertahankan bahasa Nggalekan. Beberapa teman satu circle-ku berasal dari Kediri, Ngawi, danMadiun. Teman satu organisasi pun juga melekatkan nama Tulungagung, Kediri, dan Ponorogo di jidat mereka. Jadi ketika kami terlibat dalam suatu percakapan celetukan dan umpatan pun hampir sama. Dalam banyak kesempatan mereka senantiasa ber-baiyuh baiyuh serta ber-peh!

Kuliah di Kampus dengan Status Terjajah Plat AG

Poin ini berhubungan dengan poin sebelumnya. Universitas Negeri Malang atau UM memang punya stereotip dipenuhi mahasiswa dari wilayah berplat AG. Saya tidak punya data yang valid soal jumlah, tetapi itu bisa dideteksi dari parkiran yang motor berplat AG nya lumayan banyak. Belum lagi bebunyian di tiap sudut kampus yang selalu saja ada suara-suara ‘Cah’, ‘Peh’ dan ‘Baiyuh’. Bukan cuma mahasiswa, beberapa dosen saya pun ada juga yang berasal dari daerah plat AG dan Mataraman secara lebih luas. Jadi, dalam konteks guyon, kampus yang sering dikira UMM ini bisa dibilang dikuasai oleh darah plat AG.

Tetap ‘Ora’ bukannya ‘Gak’

Saya pernah punya kesempatan terlibat dalam sebuah forum dengan beberapa peneliti dari Balai Bahasa Yogyakarta. Salah satu peneliti yang kupanggil Pak Joko membagikan sebuah pengalaman terkait perubahan cara berbahasa yang dialaminya sendiri. Anak sekarang (untuk menyebut anak muda, mungkin gen-Z) lebih sering menggunakan kata ‘gak’ daripada ‘ora’ untuk mengungkapkan penolakan atau menegasi sesuatu. Menurut Trijanto (2012), dalam Bahasa Jawa Standar memang tidak ada kata ‘gak’. Ungkapan ‘tidak’ dalam bahasa Jawa Standar adalah ‘ora’. Bagi orang Jawa Mataraman, fenomena itu bisa saja mengindikasikan kalau anak muda tidak lagi berbahasa Jawa dengan semestinya. Tentu berbeda dengan pengguna bahasa Jawa dialek arekan.

Pengalaman Pak Joko ternyata terjadi pada saya, meskipun ‘ora’ dan ‘gak’ ternyata termuat dalam kamus bahasa Jawa-Indonesia. Namun, orang di tempat asal saya lebih sering menggunakan kata ‘ora’ daripada ‘gak’ atau ‘ndak'. Orang Trenggalek lebih dekat dengan bahasa Jawa dialek Mataraman daripada dialek yang lebih timur. Oleh karena itulah saya secara sadar menertibkan diri untuk menggunakan ‘ora’. Walaupun punya arti yang sama dengan ‘gak’ atau ‘nggak’ atau ‘ndak’, kata ‘ora’ memang terasa lebih Njawani.

Mengusahakan ‘Cah’ daripada ‘Rek’

Mendeteksi asal daerah seseorag bagi saya tidak cukup sulit. Paling gampang melihat plat motornya, atau yang berdasarkan pengalaman yang lebih akurat yakni mendengar apa yang keluar dari mulutnya. Kalau ia memanggil kawan-kawan sekelompoknya dengan ‘cah’, kemungkinan besar dia orang Mataraman. Jika orang itu menggunakan ‘rek’ ada dua kemungkinan. Pertama, orang itu asli Malang dan sekitarnya (penutur asli dialek arekan). Kedua, orang itu ingin mencoba blend in dengan teman-temannya yang wong etanan. Meskipun kadang-kadang masih terdengar, “Wis madang, rek?”

Karena ciri itu, saya mencoba untuk menggunakan ‘cah’, terutama di kelas atau organisasi.

Melestarikan ‘Ritek’

Sebenarnya saya belum menemukan padanan yang pas untuk menjelaskan makna kata ‘ritek’ dalam bahasa Indonesia. Terkadang kata itu bermakna ‘perlu’ seperti ketika digunakan pada ungkapan ‘ora ritek’ yang berarti ‘tidak perlu’. Kadangkala juga berfungsi sebagai penegas seperti pada ‘iyo ritek’ yang saya maknai dengan ‘iya yang serius banget’. Terkadang kata ‘ritek’ juga mirip kata ‘pun’ dalam bahasa Indonesia. Contohnya pada penggunaan ‘ngono ritek’ yang apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘begitu pun’. Namun, maknanya begitu cair, bergantung pada konteks kalimatnya.

Hal ini pernah dibahas oleh Mohamad Sirojul Akbar dalam esainya berjudul Culture Shock Orang Kediri Ketika Pertama Kali Singgah di Kabupaten Trenggalek di Mojok. Dalam tulisan itu ia menjelaskan betapa bingungnya ia menggunakan, memahami dan menjelaskan kata ‘ritek’.

Oleh karena itu, saking Nggalek-nya kata ini, saya tetap menggunakannya dalam percakapan sehari-hari di Malang. Memang sedikit egois, sebab beberapa teman akan merespons dengan ‘hah hoh’ tidak mengerti. Namun, ini saya lsayakan agar ‘setidaknya’ lidah saya tetap terlatih melafalkan ‘ritek’.

Susahnya menjelaskan kata ‘Ritek’ saya rasa menjadi pengalaman kolektif orang Trenggalek, karena tidak dapat dimungkiri memang sesusah itu. Kata ‘ritek’ memang begitu Nggalek. Sampai kabupaten ini punya tagline ‘Ra Nggalek, Ra Ritek’ yang artinya …em apa, ya?


Rujukan:

Akbar, M. S. (2024). Culture Shock Orang Kediri Ketika Pertama Kali Singgah di Kabupaten Trenggalek. https://mojok.co/terminal/culture-shock-orang-kediri-ketika-pertama-kali-singgah-di-kabupaten-trenggalek/. Diakses pada 07 Juni 2024.

Trijanto, E. K. (2012). Bahasa Jawa Dialek Surabaya Warisan Jati Diri Masa Lalu, Kini, dan Kelak. Mabasan6(1), 31-48. http://mabasan.kemdikbud.go.id/index.php/MABASAN/article/view/220


Komentar