Mereka Cuma Punya Suara

 

Foto: Lilin-lilin disusun membentuk waru 

Hati mungil Mataramanku terjiwit ketika orang-orang di tengah perempatan itu mengucap ‘Jancok’ dengan enteng. Rasanya begitu wagu. Bahkan di tengah-tengah deru mesin kendaraan, musik, dan klakson yang secara sialan terasa karut-marut, umpatan itu tidak teredam. Sama sekali.

Waktu itu Jumat malam. Malam sakral, malam wingit, sekaligus malam sambut akhir pekan. Kayutangan dan keramaian seperti menikah di itu malam. Dan dalam kepungan pesta yang gemerlap lagi warna-warni itu, ada warna hitam dan keredupan.

Aku adalah satu dari beberapa biji orang yang masuk dalam kategori ‘warna hitam’. Tujuan utamaku malam itu adalah menemani beberapa kawan meliput berita untuk LPM. Tujuan sampingannya -kalau aku sendiri- sekadar hanya ingin tahu bagaimana sesungguhnya rasanya terlibat dalam aksi malam Jumat itu.

Sebenarnya ini bukan kali pertama bagiku berangkat meliput Aksi Kamisan. Namun, malam itu adalah pertama kali aku mengikuti rangkaian acara dari mula sampai hampir rampung. Beberapa kesempatan sebelumnya hanya aku gunakan untuk melihat dari jauh, juga putar balik karena acara batal.

Aku dan kawan-kawanku termasuk yang datang paling awal. Sejenak kami hanya plonga-plongo, terbingung-bingung di seberang Lafayet. Pertama, kami belum melihat ‘hitam-hitam’ lain. Kedua, kami tidak punya kenalan sama sekali. Ucapan piya-piye pun tak terhindarkan. Sebenarnya aku cukup percaya diri untuk langsung berjalan ke tengah perempatan untuk kemudian menyapa partisipan lain. Namun, aku menunggu pemimpin rombongan kami -yang hanya 4 orang ini- alias si inisiator alias anak magang, untuk memulai suatu langkah. Pada akhirnya dengan cara entah bagaimana kami sudah berada di antara sesama ‘hitam-hitam’ lain.

Liputan berjalan dengan semestinya. Si anak magang mendapat rekaman wawancara dan foto, juga pengalaman berharga, barangkali. Aku bersyukur untuk itu.

Sayangnya, ada pula yang tak berjalan sesuai rencana. Memang, itu bukan barang besar. Hanya sesuatu yang tidak akan membuat negara mampus kalaupun tak berjalan mulus.

Malam itu angin bertiup kencang. Meski langit terang, hawa dingin menerpa bak banjir bandang. Kendaraan bermotor berlalu-lalang, seruan dan puisi yang dibaca malam itu jadi teredam. Lilin-lilin putih yang direkatkan ke paving dan membentuk waru harus rela takkunjung menyala. Lilin-lilin itu seperti orang yang terbawa arus deras bengawan: terengah-engah mempertahankan hidup,

Kemudian aku terbawa pula kepada maksud aksi malam Jumat ini yang dari pendengaran dan penglihatanku fokus ke Tragedi Kanjuruhan. Dalam pandanganku. yang begitu awam dan bahkan tak sepenuhnya paham, orang-orang yang masih berdiri konsisten menuntut dan menyerukan keadilan adalah lilin-lilin itu. Pijarnya sering hampir kalah oleh angin kencang, tetapi pendarnya tidak juga padam.

Nyala mereka hanya suara. Bukan panas peluru atau bedil yang beku.

Mereka cuma punya suara, itu pun tak didengar.


*hasil liputannya ini: 
https://www.instagram.com/p/C8OaLbkp4Gy/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==

Dokumentasi malam itu:







Komentar