Aku membayangkan kalau namaku punya rasa yang lebih lekat, bukan cuma bagi diriku sendiri, tetapi juga bagi orang lain dengan cara menukil bahasa setempat. Bisa Indonesia bisa juga Jawa. Mungkin nama dari keluarga kembang-kembang, hewan-hewan, atau lanskap alam. Barangkali ini bertautan dengan konsep keibuan dalam hidup masyarakat. Ada banyak istilah yang menggunakan kata 'ibu' di dalamnya, seperti ibukota, ibu pertiwi, dan ibu jari. Selain itu ada juga istilah bahasa ibu. Dalam bahasa, mengalir ibu. Dalam kita, mengalir ibu. (ini metafor lur, yang psikolinguistik minggir dulu).
Kultur Jawa memiliki sebuah falsafah yang berbunyi ibu bumi, bapa angkasa. Ibu bumi adalah wujud kasih yang merawat apa saja di dalam dan di atasnya. Oleh karena itu, menurutku, tempat kita berpijak, berlari, lahir, dan mati, adalah sesuatu yang sepantasnya menempel pada kita. Mungkin, kalau dibayangkan dengan pikiran ideal, pemilihan nama akan simultan dengan penghayatan seseorang terhadap nama itu. Bahwa nama dapat mengemban konsekuensi terkait kedekatan manusia terhadap kebudayaannya.
Berbicara tentang dekat dan jauh artinya ada persoalan tentang jarak. Jarak bahasa, bestieku sekalian, ternyata bisa dicicip dari nama, namamu sendiri bisa jadi contoh. Akar bahasa dari nama itu berasal, yang mungkin jauh dari akar kebudayaan tempat kita lahir, ternyata bisa memberi jarak antara kita dan diri kita sendiri. Bayangkan, kita tidak tahu diri kita sendiri hanya oleh sebab makna nama yang tidak sepenuhnya kita ketahui. Tentu, arti dan makna pada cuap-cuap ini saya tempatkan pada posisi yang berbeda meskipun KBBI membuat mereka setubuh beda nama. Makna adalah tentang rasa, bukan arti harfiah yang meleraikan diri dari penghayatan.
Pikiran ini untungnya termanifestasi dalam nama keponakanku. Selaras, itu namanya. Kedengarannya saja bagiku sudah tidak asing. Dekat, gampang dilafalkan, dan terasa mudah dimaknai.
Sebagian orang akan menggunakan ungkapan, “Apalah arti sebuah nama," dan lagipula, dalam setiap nama pasti terdapat makna-makna baik meski berasal dari negeri jauh. Namun, nama memang seberarti itu, sekrusial itu. Seperti tindak tanduk, nama juga juga dapat menjadi citra suatu identitas.
Sebab nama selalu tentang bunyi, selalu tentang kemelekatan, selalu tentang makna yang termaknai.
Catatan:
Cuap-cuap ini pernah saya post di Instagram dengan versi yang lebih ngang-ngong daripada ini.
.png)
Komentar
Posting Komentar