Tubuhku Buah Pir

Sumber: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Rocha_Pear.jpg

Bukan aku yang kuning pucat dan berair. Bukan. Namun bentuk badanku yang seperti buah pir. Ramping di atas, besar di bawah. Adakah dari kalian yang senasib? Kalau ada, barangkali cuap-cuap kali ini akan menghidupkan rasa senasib sepenanggunan.

Aku sudah mengetahui teori bentuk tubuh dengan julukan buah ini sejak SMP, tetapi perhatian baru muncul ketika aku lulus SMA. Cara penyebutan tipe tubuh ini didasarkan pada ukuran lingkar dada, pinggang, dan pinggul. Ada pula yang menyebutkan dasarnya adalah lebar bahu, pinggang, dan pinggul. Entah mana yang tepat, tetapi yang pasti cara ini mempertimbangkan rasio antar bagian tubuh yang disebutkan. Untuk mengetahui tubuhmu termasuk tipe apa, coba cek di internet.

Layar gawaimu akan memunculkan buah-buahan dan tubuh-tubuh perempuan, berikut dengan berbagai macam pakaian, kemudian cocokkan dengan bentukmu. Atau kalau masih ragu, masukkan kata kunci body type calculator. Nah, lalu selamat mencoba!

Kembali lagi kepada bentuk tubuhku yang seperti buah pir. Tipe tubuh semacam ini punya berbagai masalah yang cukup kompleks. Bahkan lebih kompleks daripada perbedatan soal gemini itu bangsat atau tidak. Mari, sini aku tunjukkan.

Harus Pilah-Pilih Model Pakaian

Tidak seperti engkau-engkau yang punya bentuk badan jam pasir, seorang berbadan buah pir harus cermat dalam memilih model pakaian. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Pertama, jangan pilih pakaian model lurus, soalnya itu bikin proporsi tubuhmu kurang yahud. Usahakan cari pakaian yang menonjolkan pinggang, seperti celana high-waist atau dress yang memberikan lekukan di pinggang. Boleh berupa aksen karet, tali, atau dress model empire. Aku sudah menerapkan cara ini pada koleksi celana (yang jumlahnya cuma tiga) dan sejauh ini cukup berhasil. Nyatanya ketiga celana itu lebih sering kukenakan daripada celana lain.

Kedua, cari pakaian yang lengannya tidak biasa. Boleh lengan baju yang bermodel balon-balon, rumbai-rumbai, atau batwing. Tujuannya supaya ada volume lain yang mengimbangi tonjolan pinggul. Dengan begitu bentuk badanmu akan kelihatan seimbang.

Celana adalah Musuh 

Memusuhi bukan berarti tidak merukuni. Lagipula, bagaimana nasib para pemilik tipe tubuh buah pir kalau tidak bercelana (bukan berarti telanjang). Kami bakal susah lompat sana lompat sini, tendang sana tendang sini. Akan tetapi, sulit untuk dimungkiri kalau mencari celana adalah pekerjaan bermode yang paling ngeselin bagi si tubuh buah pir. Meskipun ada opsi celana kulot pinggang karet, tetapi terkadang aku (atau kita?) ingin mengenakan celana jeans yang tidak melar, atau celana bahan.

Lingkar pinggang kecil yang sepaket dengan lingkar pinggul (sekaligus bokong) yang tidak kecil sering membuat aku bingung ketika mencari celana. Seakan-akan tidak ada kata pas. Apabila ukuran pinggang sesuai, pasti bagian pinggung terlalu kecil. Dan sebaliknya. Kalau ukuran pinggul pas, jangan harap pinggang bebas dari gesper atau pengait tambahan.

Problem ini memang perlu siasat. Kalau aku biasanya beli pengait celana yang ada di e-commerce. Bahannya bagus, bisa pilih warna. Bagi yang tidak tahu fungsinya pasti mengira pengait itu adalah aksesoris. Mungkin kamu-kamu yang punya masalah serupa bisa coba cara ini agar bisa tetap rukun dengan celana dan tidak menganggapnya sebagai musuh serius.

Sarana Self-Love

Pemilik tubuh tipe buah pir mayoritas punya paha yang gemoy (untuk tidak mengatakannya besar dan berlemak). Sebab utamanya adalah distribusi lemak yang terpusat di bagian itu. Hal ini tentu tidak bisa diubah, sebab sifatnya sudah gawan.Namun, paha yang tidak kecil dan berlemak ini adalah salah satu jalan untuk mencintai diri sendiri, sekaligus pengingat tanpa suara bagiku untuk tidak gampang menggunjing bentuk badan orang lain. Self love doesn’t mean we have to hate others, right?

Cuap-cuap ini bikin aku tiba-tiba ngerasa seperti SJW divisi self-love. Namun terlepas dari itu, mencintai diri sendiri -termasuk bentuk tubuh- menghindarkan aku dari standar aneh yang selama ini berlaku. Bentuk tubuh jam pasir, gitar spanyol, atau apalah itu, sama sekali bukan tolok ukur ke-yahud-an bodi seseorang. Body goals bagiku bukan soal bentuk, tapi soal rasa syukur atas bentuk yang alami. Kita tetap yahud dengan bentuk kita sendiri. Yang terpenting adalah sehat jasmani, rohani, dan punya money.

Komentar