MENGOBRAK-ABRIK LEMARI, MENATA PIKIRAN

Sumber: Dokumentasi pribadi

Ada berapa jumlah pakaian di dalam lemarimu? I bet none of you can mention the exact number. Kalaupun bisa menjawab, pasti akan diwakili oleh kata ‘’banyak” atau “tak terhitung”. 

Pakaian termasuk kebutuhan primer, tapi sayangnya ia tidak seperti makanan yang bisa jadi tai, dapat terurai dengan mudah. Oleh karenanya, diperlukan cara-cara tertentu agar keberadaannya tidak menuh-menuhin. Meskipun pakaian tidak seperti makanan, tetapi sedikit banyak ia punya sifat yang mirip dengan zat pengisi perut itu. Apabila terlalu banyak, pakaian hanya akan menjadi endapan menganggu. Seperti lemak-lemak di balik kulitmu (dan kulitku, barangkali). Dan sama seperti efek samping lemak terhadap kita, pakaian yang menumpuk seringkali membikin stres. 

Semua orang di rumahku punya masalah yang sama soal pakaian: terlalu banyak. Bukan karena kami sering membeli. Tentu saja bukan. Namun, usia (berikut dengan pertumbuhan ukuran tubuh) dan tren yang terus berubah membuat kami harus tunduk padanya sehingga pakaian di rumah tidak bisa berjumlah sedikit. Sepertinya siklus ini juga menimpa banyak orang. 

Mewariskan pakaian lama pernah jadi suatu opsi untuk mengurangi jumlah. Akan tetapi, metode itu tidak selalu efektif. Menggulirkannya dari badan ke lantai untuk menjadi keset dan lap serbaguna pun tidak pernah luput menjadi pilihan. Namun, entah mengapa pakaian-pakaian itu seperti punya jurus beranak-pinak dengan sendirinya. 

Sampai akhirnya aku terpapar sesuatu bernama decluttering. Secara ringkas, decluttering adalah upaya menyingkirkan barang-barang takberguna yang ada di rumah (populix.com), atau yang menurutku adalah menalar kebermanfaatan barang-barang di rumah. Beberapa video di sosial media menjelaskan bahwa barang-barang tersebut bisa berupa apa saja. Jadi barang peninggalan dari mantanmu mungkin bisa di-decluttering-kan. Aku tidak terkejut kalau di lemariku terdapat banyak pakaian takguna saat membukanya. Rasanya ingin menarik semua baju keluar, berantakan pun biarlah. Namun, ternyata aku ndak cukup gendeng untuk melakukannya, dan berakhir dengan memilahnya satu per satu secara waras.

Seperti melakukan ziarah kepada dirimu yang lalu. Fakta bahwa pakaian yang dulu sering dipakai —melekat menyaru kulit— kini punya bau seperti sintesis aroma kayu, minyak gosok nenek, dan kapur barus, atau wangi tua yang selalu sulit dijelaskan, menjadi tanda bisu kalau aku (dan mungkin kita) sepenuhnya larung dalam aliran waktu.

Ternyata yang membuat orang sulit membuang barang bukan nilai harga, tetapi memori yang mengendap padanya. Pada tiap benangnya, pada tiap kancing, pada momen barang itu dibeli, pada sosok yang memberi. Dan itu semua seperti jangkar pada kapal. 

Agenda decluttering-ku harus memakan waktu melebihi alokasi karena ada gangguan berupa romantisasi baju-baju waktu kecil, waktu TK, waktu SD, waktu SMP, waktu SMA, waktu lalu yang hanya bisa dikenang dan disayang-sayang. Akan tetapi tidak sampai batal. Rencana yang dipengaruhi oleh paham minimalisme itu (yang tidak pernah betul-betul aku pahami) tetap berjalan. Akan tetapi, hasilnya tidak sesuai harapan. Berdasarkan nilai guna, baju-bajuku masih berguna semua. Hanya saja memang jarang kupilih sebab selama ini aku lebih sering mengambil baju dari keranjang pakaian pra-setrika. 

Tidak ada yang tersisih dari lemari. Malah, aku menemukan beberapa harta karun (yang bukan milik Qarun) berupa sejumlah pakaian yang bisa dialihgunakan. Contohnya, gamis cingkrang yang bisa jadi daster rumahan. Aku juga menemukan beberapa pakaian ibuku waktu muda yang masih bisa kupakai. 

Aktivitas mengurangi dan mengenang ini kemudian memberiku sebuah kesimpulan, kalau memang tidak ada yang bisa disingkirkan sampai jadi sampah, masih ada yang bisa diculik berupa hikmah: kalau sulit mengurangi, paling tidak jangan menambah. 

Dan kamu tahu, ini bukan lagi soal baju-baju. 

Komentar