Libur memberi saya waktu lebih untuk melamun. Ya …Selain rebahan, tentu saja. Dan melamun membuat saya banyak merenung soal banyak hal. Salah satu hasil dari renungan pagi-siang-malam itu adalah sebuah fakta usang, yaitu bahwa saya suka hal instan, yang cepat, yang segera. Dalam hal ini, saya menyadari bahwa saya tidak cukup ahli dalam menunggu.
Sejak saya sekolah di Malang, paparan tentang yang viral-viral tidak dapat terhindarkan. Mau itu dari sosmed atau mulut kawan-kawan, selalu ada satu atau beberapa tempat yang mengundang untuk disinggahi. Mayoritas berupa tempat makan. Sayangnya keinginan itu dikalahkan oleh rasa ‘malas menunggu’ yang saya punya.
Di era ini, kita sudah terbiasa melihat pola viral→ramai. Jadi, ekspektasi saya soal tempat-tempat viral ini sudah pasti dipenuhi banyak orang berjubel menunggu pesanan dan menunggu kesempatan untuk memesan. Gambaran yang ada di kepala saya itu --yang dijalani saja belum— sudah bikin saya males. Ini mungkin berhubungan dengan kecenderungan saya yang tidak suka ramai. Namun, setelah saya preteli lagi, ternyata ini bukan cuma tentang ramai.
Mengapa saya dapat menyimpulkan demikian? Kisanak, Bale Luwe, Gacoan, itu semua termasuk tempat ramai. Tapi kedai-kedai makanan itu memiliki pelayanan yang cepat (paling tidak menurut saya) sehingga saya tidak perlu mengorbankan banyak waktu, kemudian bisa segera ini dan itu.
Lolololo gak bahaya, ta? Hal itu saya pandang sebagai sesuatu yang mengancam. Takutnya, saya nanti nggak bisa jadi orang yang telaten atau paling tidak bisa menunggu, grusa-grusu, dan dicitrakan sebagai orang yang punya kesabaran setipis tisu. That is kinda dangerous for my own life, because sometimes life forces us (human) to be patient.
Nah, problematika itu membuat saya jadi ingin melatih kesabaran dengan cara yang sebelumnya tidak saya sukai, yaitu menunggu. Saya melakukannya dengan cara datang ke salah satu kedai ramai di dekat kos. Tempat ini sempat lewat di reels instagram saya dengan angka like dan komen yang tidak sedikit. Jadi, tempat ini memenuhi indikator tempat yang sebelumnya enggan saya datangi.
Nama kedainya Depot Panjang Umur. Tempat ini punya vibes jadul yang dibangun oleh peranti-peranti berusia tua dan bermodel lawas. Kedai dengan tema jadoel (diketik demikian karena on purpose) akhir-akhir ini tampaknya emang lagi ngetren di mana-mana, dan Depot Panjang Umur adalah salah satunya.
Saya mencoba untuk ride the wave, biar sama kaya lainnya. Trying new place and new taste sambil menunaikan tantangan bersabar. Langkah pertama yang saya lakukan sebelum benar-benar menganut ajaran Google Maps adalah mencari akun instagram kedai itu. Setelah ketemu, saya langsung membuka instastory dan mendapat info soal jam buka dan daftar harga menu. Tepat seperti apa yang saya cari.
Selain tidak suka menunggu, saya juga punya penyakit sering lupa. Jadi, meski tempat itu dekat kos saya dan sudah beberapa kali pula saya lewati, jasa Google Maps tetap saya butuhkan.
Saya datang ke sana pukul empat lebih lima sore, waktu yang diberi tunjuk oleh instastory @depotpanjangumur. Pukul segitu, depot sudah cukup ramai. Lahan parkir telah dipenuhi banyak motor dan antrean pesan tampak cukup panjang. Hm …Tampaknya challenge sudah dimulai.
Saya menarik napas panjang, mempersiapkan diri untuk mengarungi tantangan menunggu ini. Saya mengantre dengan sabar. Sesekali celingak-celinguk melihat apa saja yang bisa dilihat, dan sebagai budak teknologi saya juga scrolling layar ponsel. Ternyata waktu memesan tidak cukup lama. Langkah pertama aman. Pilih menu, satset, bayar.
Setelah pesanan saya dicatat, saya mencari tempat duduk yang agak mojok dan sepi sehingga saya bisa plonga-plongo dengan leluasa. Saya menunggu dengan khidmat dari pukul 16.14. Ini adalah momen krusial bagi perjalanan menantang ini. Kesabaran saya diuji. Sambil menunggu, saya scrolling lagi, dan seperti mendapat hidayah, saya membuka situs nggalek.co dan membaca satu setengah artikel (yang satu tidak saya rampungkan sebab pesanan sudah terhidang). Ya, setidaknya saya nggak sepenunya plonga-plongo.
Pukul 16.27 pesanan saya akhirnya datang. Rasanya lega sebab sifat wegah nunggu saya tidak lagi bergejolak. Lalu akhirnya saya makan dengan tenang dan saksama. Hati pun dibuat cukup happy karena makanan dan minuman yang saya pesan rasanya enak, serta yang lebih penting, rasa dan harganya selaras. Jadi saya nggak merasa rugi sudah mengeluarkan budget yang menurut saya “lumayan” untuk misi ini.
Dari hasil eksperimen ini, saya jadi tahu kalau menunggu dan bersabar tidaklah buruk. Ternyata, saya mampu juga untuk menanak kesabaran dari mentah sampai matang. Terkadang kita memang perlu bersabar dan mengorbankan waktu untuk beberapa hal, termasuk menguji apakah sebuah tempat dapat dibilang worth the hype atau tidak. Hehe.
Mungkin untuk selanjutnya, saya bakal nyoba "tantangan menunggu" lagi di lain tempat. Itu pun kalau punya niat dan tentu saja, duit. Wkwkwk.
Kamu mau nemenin aku, nggak?
Sejumlah dokumentasi pada hari itu di Depot Panjang Umur.






Komentar
Posting Komentar