Menjadi Dewasa melalui Gadis Cilik di Jendela, Totto-chan

Sumber gambar: desain pribadi
sumber foto: https://id.wikipedia.org/wiki/Totto-Chan:_Gadis_Cilik_di_Jendela

Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela menjadi satu-satunya buku cerita anak yang berhasil saya baca secara serius. Sebelumnya, saya hanya membaca sekilas buku cerita nabi-nabi yang disediakan TK, buku Kecil-Kecil Punya Karya yang tidak pernah khatam saya baca sebab itu milik anak tetangga, dan yang terkini adalah buku-buku cerita anak yang saya butuhkan untuk keperluan tugas. Ya, miris memang. Bahkan jika bukan karena keperluan akademik, mungkin saya tidak akan tergerak untuk membaca buku bersampul putih itu. Namun, saya memanjatkan banyak rasa syukur setelah akhirnya dipertemukan dengan buku cerita anak yang berasal dari Jepang itu. Wajah saya barangkali tidak membuat banyak ekspresi ekspresif, tetapi di kepala saya muncul begitu banyak kata “wah”, “wow”, “luar biasa”, dan ungkapan kekaguman lain.

 Kekaguman itu tentu didasari atas  banyak faktor. Namun, faktor utamanya adalah isi cerita yang menjadikan sosok Totto-chan, gadis kecil di jendela, sebagai tokoh sentral. Rasa ingin tahu yang tinggi, kekuatan mengekspresikan diri yang kuat, dan sosok Totto-chan yang dapat dikatakan hiperaktif menjadi pembuka gerbang menuju kisah-kisah singkat yang sarat akan pelajaran.

Lalu pertanyaan, “Sebagus apa cerita Totto-chan itu?” muncul. Secara hemat, saya dapat mengatakan cerita di dalam buku ini begitu mindblowing. Mungkin karena saya tidak punya cukup banyak referensi untuk membandingkan, atau memang buku dengan tebal 281 halaman ini sangatlah bagus. Ukuran bagus dan tidaknya sebuah buku dapat dilihat dari berbagai sisi. Salah satunya mempertimbangkan kesesuaian target pembaca dengan isi buku itu sendiri.

Buku cerita Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela berhasil merangkum kompleksitas kehidupan ke dalam kisah anak-anak yang sederhana dan ditampilkan secara singkat di tiap bagian. Bagaimana bahasa yang tidak rumit, tetapi cukup untuk membeberkan maksud dari cerita menjadikan buku ini seperti sebuah miniatur dunia anak. Persepsi mengenai anak yang serba sederhana, dalam artian hanya mengenal bermain dan senang-senang terpatahkan. Anak tak ubahnya manusia dewasa yang dalam kehidupannya mengalami dinamika. Di dalam buku ini, anak-anak telah mengalami banyak hal, antara lain rasa senang, sedih, kehilangan, merawat, perpisahan bahkan kematian. Mungkin akan ada yang bertanya tentang bagaimana anak-anak menghadapi segala situasi dan perasaan itu? Tidakkah itu begitu rumit? Bahkan orang dewasa belum tentu bisa menghadapi kompleksitas kehidupan semacam itu. Tokoh yang menanggulangi segala kerumitan itu adalah Kepala Sekolah.

Kepala Sekolah memiliki nama Sosaku Kobayashi, atau di dalam novel sering disebut Mr. Kobayashi. Kepala Sekolah digambarkan sebagai sosok guru yang sabar, revolusioner, ikhlas, kreatif, dan berdedikasi tinggi terhadap pendidikan. Caranya mendidik, caranya menjelaskan sesuatu, dan caranya meletakkan sudut pandang dapat menciptakan dunia kecil yang menyenangkan bagi anak-anak di Tomoe Gakuen, sekolah miliknya. Mr. Kobayashi berhasil menciptakan sekolah sebagai dunia yang terdiri dari banyak komponen, tidak hanya tempat untuk sekadar belajar membaca, menulis, dan mematuhi aturan. Tomoe Gakuen memberikan ruang bagi siswa-siswinya untuk berinteraksi, tidak hanya dengan sesama manusia, tetapi juga dengan alam. Tomoe Gakuen adalah miniatur dunia.

Selain kepala sekolah, ada sosok orang tua Totto-chan yang mengambil peran besar dalam mengembangkan alur cerita. Ibu Totto-chan adalah seorang ibu rumah tangga biasa, sementara ayahnya adalah seorang pemain biola profesional. Keduanya adalah orang tua yang pengertian. Ketika Totto-chan terpaksa dikeluarkan dari sekolah, ibu Totto-chan tidak menyalahkan anaknya maupun pihak sekolah, tetapi fokus mencari solusi agar anaknya tetap bisa bersekolah sehingga Totto-chan masuk ke Tomoe Gakuen.

Gambaran orang dewasa dalam kehidupan Totto-chan membuat saya merasa iri. Totto-chan sangat beruntung karena ketika bertumbuh, ia dikelilingi orang dewasa yang memahami anak-anak, tahu bagaimana cara menghadapi anak-anak, dan mengenal dunia anak-anak. Kemudian saya bepikir, bukankah orang dewasa dengan sikap seperti itu seharusnya ada di dunia anak-anak sekarang? Peran penting orang dewasa, khususnya orang tua, terhadap kehidupan anak tidak melulu soal nafkah lahir. Ada sisi lain yang juga sangat penting untuk diperhatikan. Anak memerlukan nafkah kecerdasan.

John Locke mengatakan bahwa anak adalah selembar kertas putih yang belum pernah ditulisi. Siapa yang memiliki akses untuk menorehkan warna, garis, dan bidang di kertas putih itu? Tentu jawabannya adalah orang dewasa. Kemudian terdapat pandangan lain yang mengatakan bahwa anak bukanlah tabula rasa. Sebagai seorang manusia, anak sedari lahir telah memiliki sifat-sifat tertentu. Namun, bukan berarti sifat bawaan tersebut tidak bisa dikendalikan. Dibutuhkan kehadiran orang dewasa yang dapat mengarahkan ke mana sifat-sifat tersebut berjalan. Dari kedua pandangan tersebut, masing-masing menekankan bahwa dibutuhkan peran orang dewasa dalam perkembangan anak. Orang dewasa yang dibutuhkan adalah orang dewasa yang memahami anak.

Seringkali orang dewasa berdalih mereka tidak memiliki waktu yang cukup untuk meladeni anak. Meladeni rasa ingin tahunya, keinginan anak bereskpresi, atau mendengarkan cerita-cerita yang keluar dari mulut anak. Akan tetapi, jika melihat orang dewasa di novel Totto-chan, mereka masih dapat menyuguhkan dunia yang menyenangkan bagi anak meskipun Jepang sedang dalam situasi perang. Bukan berarti pandangan tersebut mendorong para orang dewasa untuk menomorduakan keselamatan. Tetapi, menyelamatkan kecerdasan anak tidak menjadi hal yang mustahil bagaimanapun kondisinya.

Mr. Kobayashi telah memberikan sebuah contoh bagaimana keikhlasan dan tekad yang dituangkan pada suatu sistem akan menelurkan hasil yang jauh dari kata mengecewakan. Menurut saya, Tomoe Gakuen adalah sekolah yang paling sekolah. Substansi dari adanya pendidikan dapat dicapai dengan maksimal. Siswa-siswi Tomoe Gakuen tidak hanya hidup di bawah tuntutan untuk mahir menulis, membaca, dan mematuhi perintah. Namun, Tomoe Gakuen memberikan ruang bagi anak untuk hidup dengan pikiran yang terbuka dan bebas. Kebebasan yang diberikan di Tomoe Gakuen akhirnya membuat para siswa-siswinya mampu membuat batasan sendiri, yang artinya pikiran mereka aktif. Tahu mana yang boleh dan tidak, paham mana yang lebih baik dilakukan atau tidak dilakukan. Kebebasan di Tomoe Gakuen mendorong siswa-siswinya memiliki penghayatan sendiri yang tidak didikte oleh orang dewasa sehingga Totto-chan dan kawan-kawannya dapat menjadi manusia yang utuh.

Novel Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela layak untuk dibaca oleh semua kalangan. Buku ini dapat saya katakan sebagai buku yang isinya daging semua. Istilah yang sedang populer itu mewakili bagaimana buku karangan Tetsuko Kuroyanagi ini mengandung begitu banyak pelajaran, tidak hanya untuk anak, tetapi juga untuk orang dewasa, serta dunia pendidikan.

Komentar