Don’t judge a book by its cover sudah jadi kutipan basi di telinga kita. Bukan cuma karena umurnya yang lebih dari uzur, tetapi relevansinya dengan zaman yang makin berkurang. That is totally out of date. Sangat disayangkan, memang. Kutipan populer yang telah menjadi tameng bagi orang-orang yang tidak dinilai ‘baik’ secara visual, serta pesan moral bagi orang lain untuk tidak menilai seseorang dari tampang dan tampak, selama berabad-abad itu rasanya tidak lagi cocok di era ini.
Bagaimana tidak, era digital mengubah kita menjadi manusia yang dapat menilai orang dari feed instagram atau instastorynya. Dan nilai itu seakan-akan sudah paten. Ketika kamu tampak cakep yang sesuai dengan standar khalayak, maka kamu akan mendapat tempat tersendiri. Itulah mengapa orang-orang tidak ada hentinya memperbaiki ‘permukaan’ daripada ‘dasar’, sebab tidak semua orang memiliki kesadaran dan keinginan untuk menilai orang dari dalamnya. Inner beauty doesn’t really work these days.
Memang tidak dapat dimungkiri, kalau keindahan visual itu jadi salah satu kunci kemujuran dan kelancaran urusan. Bahkan tidak sedikit penelitian yang mengungkap hasil bahwa penampilan yang ‘baik’ dapat meningkatkan kepercayaan diri. Namun, yang menjadi masalah yaitu ketika penampilan hanya dijadikan satu-satunya tolok ukur dalam hal menilai seseorang. Maka jangan heran kalau saat ini banyak orang berlomba-lomba untuk glow up visual. Because glow can easily seen. Sementara, kepadatan dan kekayaan ‘isi’ hanya dapat tampak jika memang dipancing atau sengaja ditunjukan. Jika dianalogikan, fenomena ini mirip snack micin kesukaanmu. Bungkusnya warna-warni, menarik, besar, gembung, tapi jumlah isinya tidak bisa ditebak. Bisa banyak, bisa sedikit. Bisa patah, bisa utuh.
Keinginan untuk memperbaiki penampilan didorong oleh segudang faktor, beberapa di antara berupa pola pikir sesat dan adab yang offside seperti di bawah ini.
Tajamnya lidah komentator penampilan orang lain
Ketajaman pola pikir dalam menyelesaikan masalah adalah hal saat ini paling dibutuhkan. Sayangnya, kini yang lebih masif perkembangannya justru skill mengomentari penampilan orang lain. Sikap sembrono yang sering dilakukan tanpa pertimbangan itu dibungkus penggalakan freedom of speech yang, unfortunately, tidak dibarengi dengan perkembangan kebebasan berpenampilan. Tidak semua orang berpakaian dengan tujuan fesyen. Beberapa hanya ingin menutup bagian vital, beberapa lagi ingin menutup bekas luka, menutup aurat, atau hanya benar-benar memenuhi kebutuhan pokok, yakni sandang. Sebagai masyarakat yang mengaku beradab, seharusnya komentar takperlu soal looks itu sebaiknya ditahan atau dibuang saja.
Berarti ada dong komentar yang perlu? Tentu saja ada. Namun, perlu diingat bahwa cara menyampaikannya harus sopan, kalau perlu diam-diam biar nggak kedengaran orang lain dan bikin si objek penerima komentar jadi malu. Lebih perlu lagi kalau komentar itu sangat diperlukan untuk keberlangsungan hidup si orangnya. Misal, pas mau wawancara kerja sudah ditentukan dresscode-nya, tapi si orang ini berpakaian di luar dresscode. Ya kalau kasusnya begini hukumnya wajib diingatkan.
Selera itu horizontal, bukan vertikal
Kata “bagus” dan “tidak bagus” secara tersirat menampilkan adanya dikotomi yang stratifikatif. Kasusnya mirip dengan sebagian penganut agama langit yang merasa lebih unggul dari para penganut agama bumi. Langit-bumi, atas-bawah, hitam-putih. Konsep itu sudah mengakar dan bercokol di alam bawah sadar manusia sehingga pola pikir ini pun teraplikasi dan diaplikasikan pada seluruh sendi kehidupan, mulai dari makanan, musik, pasangan, dan tak terkecuali penampilan.
Dan sekarang mari bercuap-cuap soal selera. Preferensi. Kalau meninjau KBBI, kata selera dan preferensi memiliki banyak makna. Tapi kali ini mari fokus pada ‘selera’ yang dimaknai sebagai kesukaan atau kecenderungan. A suka monokrom, B suka warna-warna neon. Sesimpel itu. Adakah yang salah? Tidak ada. Apakah A lebih baik dari B soal selera warna? Coba jawab sendiri. Kalau menurut saya sih enggak, ya.
Trend nge-outfit yang nggak sehat
Trend OOTD atau Outfit of The Day saya yakini adalah sebuah gerakan yang mendambakan dampak positif seperti peningkatan kepercayaan diri seseorang dalam berkespresi melalui pakaian. Inspirasi berpakaian sesuai selera juga sering didapat dari adanya tren ini. Namun, OOTD menjadi tidak sehat ketika telah dicampur dengan obsesi untuk terus-terusan terlihat fashionable.
Tidak ada yang salah dari keinginan diberi cap fashionable. Yang salah itu kalau keinginan itu menggeser posisi kebutuhan yang lebih vital. Ya mosok rela nahan laper cuma biar keliatan modis. Meskipun sandang dan pangan berada di level yang sama dalam hierarki kebutuhan, tapi di dalam kebutuhan pokok juga masih ada skala prioritas. Lebih parah lagi kalau keinginan itu dilakukan dengan memberi cap tidak fashionable kepada orang lain. Definisi menginjak untuk meroket benar-benar terjadi.
Tiada salah soal menjadi modis. Toh, tidak sedikit orang yang dalan pangan-nya memang dari sektor mode. Tren OOTD ini saya yakini juga telah menjadi salah satu trik marketing para pebisnis pakaian. Namun, kita harus memiliki kesadaran bahwa ketika tren ini sudah mengarah pada pelemahan identitas, diskriminasi, atau bahkan menyentil SARA, maka kita perlu mencari obat penawar agar OOTD tidak kebablasan menjadi tren yang tidak sehat.
Tersedianya banyak pilihan cara berpenampilan saya percayai juga merupakan sebuah sistem distribusi rezeki dari Tuhan. Gaya vintage yang kembali bangun dari tidurnya mungkin adalah cara Tuhan memberikan ladang pemasukan bagi para bapak ibu atau kakek nenek yang masih menyimpan pakaian lamanya. Pun begitu dengan mode era lain yang kembali bangkit. Tren mengenakan kain dan pakaian tradisional di kalangan anak muda juga takdapat kita lupakan. Semua itu juga taklepas dari campur tangan Tuhan.
Yang perlu diingat, bahwa kemaslahatan yang awet senantiasa diiringi oleh tindakan baik dari orang-orangnya. Dan tindakan baik itu salah satunya adalah berpenampilan dengan baik versi masing-masing, tanpa menghardik buruk cara orang lain berekspresi lewat penampilan. Toh, cakep dan tidak cakep, modis dan tidak modis itu cuma soal perspektif, soal mata siapa yang melihat. Bener, nggak?
Hm… btw, apa Tuhan juga dapat disebut Yang Maha Modis?
Wkwkwk.

Komentar
Posting Komentar